Extraordinary 'Miaw'

1 comments
TwitThis
Udah lama pengen cerita tentang si Putih.
19 November 2011, dengan berat hati saya tetapkan sebagai hari kematiannya si Putih. Sedih sih, tapi ya mau gimana lagi, selain faktor umur, mungkin juga emang udah waktunya dia mati.

Oya, yang belum tau siapa si Putih, silahkan baca sekilas tentang dia. Hehehe

Cerita tentang si Putih, bermula pada suatu hari di sekitar bulan-bulan akhir di tahun 2003. Kucing di rumah kan udeh 'bunting' tuh, trus pada suatu pagi yang dingin (asseekk), si mama kaget, trus manggil-manggil.
Trus bilang gini, kucing lu ngelahirin tuh, karena gue belom pengalaman gimana rasanya jadi 'bapak', yaa jadi gak ada ekspresi apa-apa, hahaha... ==a

Tapiii, setelah bilang itu, si mama marah-marah, ternyata kucing gue ngelahirinnya di kardus yang isinya kumpulan bahan-bahan baju. Skarang gue berpikir, ternyata kucing juga mau ngelahirin di tempat yang 'empuk' dan 'nyaman' yah. Ckckck.

Kucingku yang ngelahirin itu namanya Manis. Waktu itu dia ngelahirin 2 baby kucing yang lucu imut, dua-duanya warna putih.
Singkat cerita, T_T yang satu mati, karena ketindihan si Manis, ahh, jadi cuman tinggal 1. Nah, dari saat itulah kisah si Putih dimulai. Tepatnya 3 Desember 2003.

Warna bulunya putih, matanya masih belom bisa dibuka. Setelah beberapa bulan semenjak kelahirannya, dia udeh mulai bisa jalan. Karna emang anak satu2nya, kemungkinan dia dimanja gitu. HAHAHHAA Tapi sayang, gak beberapa lama, si Manis pergi dari rumah, si Putih terpaksa menjadi yatim piatu.

Untung masih ada kami, jadinya secara otomatis dia kami angkat jadi hewan peliharaan.
Itu berarti, si Putih harus aku kasih makan, si Putih harus aku ajak main ke dan yang pasti aku bertanggung jawab sama si Putih. Tapi bukan berarti si Putih aku manjain, kadang-kadang sih, sering deh, ahh tapi kan dia kucing,,hahahaha.

Si Putih udah makin besar, makin sering pulang malem, sering berantem sama kucing kampung yang lain. Pernah suatu kali, kakinya itu berdarah-darah gitu, trus jalannya pincang, kalo udah gini dia diem aje tuh di rumah.

Banyak cerita yang pengen disampaikan tentang si Putih, tapi 8 tahun kehidupannya, gak cukup 1 postingan blog buat nyeritain dia.

Tahun 2011, siapa sangka akan jadi tahun terakhirnya hidup.
Hari Sabtu, 12 November 2011, orang rumah lagi pergi, malem itu gw sendirian di rumah, lagi di kamar, pintu kebuka, trus si Putih masuk. Meong-meong seperti biasa minta makan. Tapi karna kesibukan di kampus, seminggu sekali pulang ke rumah, jadinya jarang main sama si Putih.

Entah kenapa gw malah milih rebahan gitu di kasur, dan gak beberapa lama, si Putih naik juga tuh ke kasur. Pikiran gw sih, ya udahlah, udah lama juga gak bersenda gurau sama si Putih, dan mumpung gak ada orang tua, jadi gak ada yang marahin. Jyyyaaahhh...
Tapi siapa sangka itu 'saat terakhir' ku sama si Putih. haiiizzzzz

Walaupun dia udah pergi tapi kenangan dengan si Putih gak bisa dilupain. Bisa sih, tapi butuh waktu lama, dan emang gw orangnya bisa cepet lupa. zzzzzz

Putih, bukan sekedar kucing, bukan sekedar hewan peliharaan, bukan kucing yang dibeli dengan harga mahal, tapi seekor teman, seekor hewan yang kadang bisa mencairkan suasana, kadang nyebelin, kadang belagu. Hahaha

Putih is Putih. Senang pernah ber-'teman' dengan si Putih.


Putih Van Decker
03/Desember/2003 - 19/Novermber/2011

Dia berjalan bersamaku

0 comments
TwitThis
Waktu itu aku sendiri, lemah, dan merasa tak berguna, kemudian datang seseorang Pribadi kepadaku. aku sudah pernah tahu tentang Dia, tapi ya cuma sekedar tahu saja, aku belum sepenuhnya mengenal Dia.

Lalu Dia mengajakku untuk ikut pergi bersamaNya, awalnya aku ragu, tapi akhirnya aku memutuskan untuk ikut pergi bersama Pribadi tersebut. Aku ragu untuk memulai perbincangan, dan aku tidak tau harus mulai darimana. Tapi sesuatu yang tidak aku sangka adalah Dia yang memulainya terlebih dahulu.

Kami pun mulai berbincang-bincang, dari awalnya aku terbata-bata untuk berkomunikasi denganNya, sampai akhirnya aku bisa mengungkapkan berbagai hal kepadaNya. Waktu itu aku berpikir dalam kepolosanku "Ah, ternyata Dia asyik juga".

Waktu terus berlalu, aku mulai mengenalNya sedikit demi sedikit. Ternyata Dia tahu berbagai hal tentang diriku, bahkan aku baru tahu tentang hal-hal itu ketika aku berkomunikasi denganNya. Kemudian aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh tanganku, Pribadi itu ternyata memegang tanganku loh. Aku hanya membalas dengan senyuman kecil. Sekarang kami berjalan dengan bergandeng tangan, mmmm mungkin kalimat yang tepat adalah sekarang tanganku digandeng olehNya.

Tiba-tiba aku melihat sekitarku, orang-orang lain dengan bebasnya melakukan segala sesuatu yang ingin mereka lakukan. Awalnya aku mencoba untuk tidak ikut-ikutan mereka, karena Dia memberitahuku untuk tidak melakukan apa yang mereka lakukan.

Tapiiiii, aku terbuai, aku lepas fokus, aku tidak mengindahkan kata-kataNya lagi, lalu aku dengan segera melepaskan genggaman tangan hangatNya dari tanganku. Aku kemudian bersama dengan orang-orang itu melakukan apa yang mereka lakukan, sesaat aku tidak memperdulikan sosok Pribadi yang sudah menolongku itu.

Aku mendengarkan Dia memanggilku, memintaku untuk kembali berjalan bersamaNya, tapi seakan-akan orang-orang yang disekitarku itu berusaha untuk menutupi telingaku, mereka berusaha untuk menghalangi suaraNya.

Lalu pada akhirnya, aku mulai tidak merasa nyaman dengan apa yang aku lakukan itu, aku menoleh kebelakang dan woww tidak bisa dibayangkan, Dia terus memanggil-manggil aku, tampak samar-samar ada tetesan air di dekat matanya.

Aku pun berlari menghampiriNya, aku meminta maaf kepadaNya karena sudah mengabaikan Dia beberapa saat.

Tahu apa responNya?

Ternyata Dia kembali memegang tanganku, dan kembali mengajakku berjalan bersamaNya. Aku terharu, aku merasa menyesal dan berjanji kepadaNya kalau aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Tak berapa lama aku berjalan bersama Dia, aku diberi tugas olehNya untuk melakukan yang Dia mau. Aku mulai berpikir, aku menyadari kalau aku tuh orang yang lemah, yang terbatas, yang tidak bisa melakukan hal itu. Lalu aku bicara kepadaNya tentang hal-hal kekuatiran yang aku rasakan itu. Tapi anehnya, Dia malah menjawab dengan mengatakan bahwa aku disuruh tenang, Dia yang akan melakukan semuanya, aku hanya sebagai alat saja untuk melakukan tugas itu.

Akhirnya akupun menerima tugas itu, memang berat, aku gak sanggup melakukannya, tapi aku kembali disadarkan kalau ternyata aku melakukan tugas itu dengan mengandalkan kemampuanku saja, aku berpikir kalau aku bisa menunjukkan kepadaNya kalau aku bisa melakukan tugas ini dengan kemampuanku, tapiiiiiiii ternyata aku salah besar, aku gak bisa berbuat apa-apa.

Akhirnya aku kembali mengadu kepadaNya, aku merasa malu, aku ingin mengatakan kalau aku tidak bisa melakukan tugas itu. Tapi kembali Dia berkata kepadaku dengan lemah lembut dan penuh kasih bahwa aku tetap harus melanjutkan tugas itu dan Dia yang akan melakukan semuanya itu.

Terdengar aneh memang, kan aku yang disuruh melakukan tugas itu, kok malah Dia yang melakukan semuanya?

Aku mendengarkan petunjuk-petunjukNya, aku melihat sendiri kalau memang benar Dia yang melakukannya, seolah-olah aku hanyak duduk memperhatikanNya bekerja melalui aku. Yaps, pada akhirnya, semua yang dikerjakanNya benar-benar membuatku kagum, sedangkan aku hanya melakukan apapun yang aku bisa lakukan.

Setelah melakukan tugas itu, aku diberi tugas lagi dan lagi, aku menikmatinya, karena aku menyadari kalau Dia yang pasti akan melakukannya dengan baik. Tapi seringkali aku takut, aku gak sanggup, aku bosan dan aku ingin meninggalkan tugas itu. Dengan sabarnya, Dia kembali menghibur hatiku, menyadarkanku kalau semuanya itu Dia yang akan lakukan, aku, ya aku, hanya sebagai alatNya saja.

Pada akhir setiap kami menyelesaikan tugas itu bersama-sama, aku merasakan adanya perasaan lega, senang, dan pastinya terkagum-kagum. Aku pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepadaNya. (tapi terkadang akupun lupa berterima kasih kepadaNya)

Sesekali ketika aku ingin melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang lain itu, aku mengingat kembali akan perbuatanNya yang benar-benar membuatku tidak ingin membuatNya sedih lagi.

Sampai suatu saat, aku kembali tergiur oleh hal-hal yang diperbuat orang-orang disekitarku itu. Aku dengan pelan-pelan mencoba melepaskan genggamanku dari tanganNya, berharap Dia tidak menyadari hal itu (bodohnya aku). Karena sudah terlalu tergoda, akhirnya aku melepaskan tanganku secara paksa, dan aku berlari, ya aku berlari menjauh dariNya, meninggalkanNya seperti yang aku lakukan sebelumnya.

Tapi Dia tetap mengikutiku, Dia tetap memanggilku untuk tetap berjalan bersamaNya. Dan sekali lagi, karena sudah tergoda dengan hal-hal itu, aku pun tidak mengindahkan Dia. Aku memalingkan mukaku dariNya dan melakukan berbagai hal yang aku tahu pasti membuat hatiNya kecewa.

Dan seperti sebelumnya, ketika aku menyadari kalau yang aku lakukan itu sia-sia, aku kembali kepadaNya, meminta Dia menghiburku, aku mengakui segala kesalahanku (aku malu). Dan anehnya, Dia tetap menerimaku, ya benar, Dia menerimaku seperti awal waktu Dia mengajakku untuk berjalan bersamaNya. Suara lembutNya, sentuhan tanganNya, tidak ada yang berubah sedikitpun.

Aku mulai mengenal secara lebih lagi tentang Pribadi yang bersamaku itu.

Sekarang Dia kembali berjalan bersamaku, Dia kembali menggenggam tanganku dengan lembut. Sesekali Diapun menggendong aku ketika aku lelah dan Dia tidak pernah mengeluh.

Sebuah perjalanan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Aku ingin mengatakannya sekali lagi,
Dia berjalan bersamaku dan akan terus berjalan bersamaku.....:-)

Maukah kamu juga menerima Dia untuk mengajakmu berjalan bersamaNya?

Sulitnya Mengakui "Kegagalan"

0 comments
TwitThis
Berkata bahwa Tuhan itu baik, memang tidak salah dan mudah dilakukan, itu memang kenyataannya bahwa Tuhan sangat baik, tapi, mengakui "kegagalan" kita dimasa lalu dengan berjiwa besar dan berkata Tuhan itu baik agar menjadi berkat bagi orang lain dan menjadi kesaksian bagi banyak orang, adalah sesuatu hal yang sulit, karena gak semudah itu menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang lain tentang "kegagalan" yang pernah kita alami.

Apalagi tipe orang seperti saya yang gak mau terbuka sama orang yang belum dikenal dengan baik, lebih baik "menyimpan" kebaikan-NYA, dari pada menceritakan "kegagalan" yang pernah saya alami kepada orang lain. (egois)

Butuh proses untuk menceritakan itu ke banyak orang, dan yang pasti butuh jiwa yang besar dan sangat besar.
Ahh, sungguh pengalaman yang luar biasa, ketika mendengarkan orang lain menceritakan "kegagalan"nya kepada saya, sangat memberi kekuatan.

Firman Tuhan hari ini sungguh menegur, "menghantam" diri saya, seperti ada sesuatu yang membuat saya tuh gak bisa berkata atau bersilat lidah (membela diri).

Mazmur 119:129-136
Bagian yang sangat menegur,
"Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh" (Ay. 130)

Dan bagian yang memberi kekuatan,
"Teguhkanlah langkahku oleh janji-Mu, dan janganlah segala kejahatan berkuasa atasku. Bebaskanlah aku dari pada pemerasan manusia, supaya aku berpegang pada titah-titah-Mu." (Ay. 133-134)

Jadikanlah firman Tuhan sebagai teman setia kita, yang selalu setia menuntun perjalanan kita, membimbing kita menentukan mana yang baik dan yang jahat, dan yang pasti, belajar firman Tuhan terus menerus akan membantu kita untuk menumbuhkan "jiwa yang besar" di diri kita, amin!.

Update status Facebook

0 comments
TwitThis
Iseng-iseng aja nih,,hohohoho....
Cobain aja, nanti di status FB kamu, jadi via Onez Sumlang ^_^b
wkwkwkkw....eksis...



Atau mau update status seolah2 via Facebook for BlackBerry??
coba yang ini aja gan...hahaha...:D

Click

0 comments
TwitThis
Film ini bercerita tentang seorang pria/ suami/ karyawan yang hidupnya ingin mencapai kesuksesan. Namanya Michael Newman, dia bekerja sebagai seorang arsitek.

Istrinya bernama Donna, anaknya Ben dan Samantha.

Dia menyayangi keluarganya, tapi tuntutan pekerjaan menghalangi waktu bersama keluarganya. Bahkan untuk membuat sebuah 'rumah pohon' pun selalu ditunda-tunda.

Waktunya dihabiskan untuk mengerjakan proyek terus menerus. Bisa dibilang, waktu untuk istirahatnya kurang.

Jadi, dirumahnya itu ada banyak remote, entah itu remote untuk buka garasi, nyalain kipas, nyalain tivi, dll. (haha..)

Singkat cerita (biar penasaran), dia pergi ke toko gitu, nyari "universal remote" (satu remote yg bisa dipakai untuk semua).

Lalu dia ketemu dengan Morty, dan dengan cuma-cuma si Morty ini ngasih 'universal remote' itu ke Michael.

Pertamanya sih, si Michael gak sadar kalo remote itu tuh remote ajaib. Sampe dia tahu kalo ternyata dia bisa mengendalikan semuanya, yaa everything.

Anjingnya Sundance yang meng-gonggong, volume suaranya bisa dikecilin pake remote itu. Haha...
Bisa nge-pause orang, forward kehidupannya, melihat kembali kehidupannya waktu dulu. Tapi gak bisa ngerubah kehidupan yang udah dijalaninnya.

Nahhhhhhhh....sampai akhirnya remote itu pun 'error', remote itu secara otomatis mem-forward kehidupan si Michael ke 1 tahun kemudian, 10 tahun kemudian, bahkan sampai dia jadi tua.
Dia melewatkan setiap detail kehidupannya, anaknya tiba2 sudah besar, dia cerai dengan istrinya, dia jadi arsitek yang sukses, sampai si Ben menikah.

Yaps....dia melewatkan semuanya itu.
Dia sangat menyesal karna gak bisa tau kejadian2 yang sudah dilewatkannya. Bahkan sampai papanya meninggalpun dia ga tau.
Dia hanya bisa melihat kembali kejadian yg sudah dilewatkannya.

Kan sekarang dia udah tua gitu yah, anaknya si Ben abis menikah.
Si Michael dirawat ceritanya di rumah sakit, nah si Ben ngejenguk tuh ke rumah sakit.

Dia (Ben) nampaknya mengikuti kelakuan ayahnya, dia mementingkan urusan kerjanya dari pada bulan madu sama istrinya.
Disitu si Michael mau bilang kalau jangan lakuin hal itu.

Dia ngejar anaknya, (sedih skaleee scene yang ini)...
Singkat cerita dia bilang "family gone first"...
Lalu ada beberapa pesan terakhir kepada Samantha dan mantan istrinya. (liat ndiri yak..hehe)

Pokoknya film ini keren, harus fokus nontonnya, rasakan, dan anda akan terharu (mungkin bisa nangis juga)

Tapiiii....emang sih ada adegan2 yang ga baik, tentang kelakuan si Sundance gitu..ga apa2lah buat lucu2an aja..haha...

Penasaran sama ceritanya??
Nontonlah film ini...

Dibilang untuk semua umur,,,mmmm ga juga sih,
Tergantung cara kamu nonton film ini sih..:D
^_^b

Pesan moral :
Selain memprioritaskan Tuhan dalam hidupmu, Anda juga harus mendahulukan keluarga Anda, percuma sukses kalo keluarga berantakan. Emang sih kerjaan itu penting untuk 'menghidupi' keluarga Anda, tapi gimanapun juga, "family gone first".

Met nonton...
 

Follow My Journey

free counters

Tempat Ngoprek

Gw juga punya blog yang isinya tentang dunia TI dan sekitarnya...Pada berkunjungnya di Tempat Ngoprek

Hasil Ngoprek

Twitter Blog Templates © Copyright 2011 by My Journey | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks